Tiap kita adalah da’i, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Terkadang kita sering lupa bersikap santun dimana pun (tanpa terkecuali saya), maksud saya; santunnya kita conditional. Kalau kondisi memungkinkan baru kita santun; kalau lagi direct selling, kalau sedang di posisi sebagai murabbi atau mengisi ta’lim-ta’lim, dan untuk mengambil simpati objek da’wah, padahal setiap saat adalah saat-saat kita mengambil simpati mad’u kita. Santun itu tak berbatas akhi wa ukhti, dimana pun, kapan pun dan pada siapa pun, bahkan orang non muslim sekali pun.
Suatu ketika di sebuah acara tatsqif dengan jumlah peserta cukup banyak, dihadiri hampir seluruh ADK di kampus-kampus di kota Medan, bahkan ada beberapa yang alumni. Acara dimulai sekitar sejam dari waktu yang sudah ditentukan. Sejam??? Ya begitulah di sini, di kota tempat ku berdiam sekarang, entah apa sebab musababnya, acara-acara tarbawi yang kuhadiri selalu saja tidak ontime pelaksanaannya, bahkan ada yang pernah ngaret hampir 2 jam, aku selalu membatin, heran sekaligus prihatin dengan keadaan ini. Pernah suatu kali ku utarakan keheranan ku ini kepada kak Linda, kak Linda bilang; ‘emang gitu sih dek kalo disini, sering gak ontime kalau ngadain acara, kalau baru di Medan emang kaget’. Wah!!! Sudah mendarah daging!!! Sudah jadi kebiasaan!!! Bahaya!!! Akhi wa ukhti, ontime pun bagian dari kesantunan, bagaimana pun mereka yang kita undang sudah meluangkan waktunya , so sudah seharusnya kita dengan sebaik mungkin memanfaatkan waktu yang sudah diluangkan oleh saudara kita.
Kita ini da’i akhi!!! kita ini da’iyah ukhti!!! Orang yang seharusnya menjadi contoh, lantas apa yang telah kita contohkan, apakah ketidakdisiplinan kita???
Recent Comments