Posted by: Alfah Saidah Saragih | 4 April 2010

Bersikap santun lah karena kita adalah Da’i

Tiap kita adalah da’i, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Terkadang kita sering lupa bersikap santun dimana pun (tanpa terkecuali saya), maksud saya; santunnya kita conditional. Kalau kondisi memungkinkan baru kita santun; kalau lagi direct selling, kalau sedang di posisi sebagai murabbi atau mengisi ta’lim-ta’lim, dan untuk mengambil simpati objek da’wah, padahal setiap saat adalah saat-saat kita mengambil simpati mad’u kita. Santun itu tak berbatas akhi wa ukhti, dimana pun, kapan pun dan pada siapa pun, bahkan orang non muslim sekali pun.

Suatu ketika di sebuah acara tatsqif dengan jumlah peserta cukup banyak, dihadiri hampir seluruh ADK di kampus-kampus di kota Medan, bahkan ada beberapa yang alumni. Acara dimulai sekitar sejam dari waktu yang sudah ditentukan. Sejam??? Ya begitulah di sini, di kota tempat ku berdiam sekarang, entah apa sebab musababnya, acara-acara tarbawi yang kuhadiri selalu saja tidak ontime pelaksanaannya, bahkan ada yang pernah ngaret hampir 2 jam, aku selalu membatin, heran sekaligus prihatin dengan keadaan ini. Pernah suatu kali ku utarakan keheranan ku ini kepada kak Linda, kak Linda bilang; ‘emang gitu sih dek kalo disini, sering gak ontime kalau ngadain acara, kalau baru di Medan emang kaget’. Wah!!! Sudah mendarah daging!!! Sudah jadi kebiasaan!!! Bahaya!!! Akhi wa ukhti, ontime pun bagian dari kesantunan, bagaimana pun mereka yang kita undang sudah meluangkan waktunya , so sudah seharusnya kita dengan sebaik mungkin memanfaatkan waktu yang sudah diluangkan oleh saudara kita.

Kita ini da’i akhi!!! kita ini da’iyah ukhti!!! Orang yang seharusnya menjadi contoh, lantas apa yang telah kita contohkan, apakah ketidakdisiplinan kita???

Lanjutkan membaca..

Posted by: Alfah Saidah Saragih | 24 March 2010

Dari Palestina untuk Indonesia

Munasharah Palestina di Ahad pagi (21 Maret 2010) itu benar-benar menghentak ‘diam’ ku dalam Da’wah.

Taujih ust.Latief Khan di aksi solidaritas itu mengingatkan kami kembali akan tujuan hidup yang sebenarnya, berkorelasi dengan bagaimana mujahidin Palestin memaknai hidupnya, merekalah orang-orang yang beruntung. Jadi teringat sebuah firman;

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat: 56).

Untuk sebuah Mardhatillah (Ridha Allah), harga yang dibayar sangatlah mahal;

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah: 111).


Lanjutkan membaca..

Posted by: Alfah Saidah Saragih | 24 March 2010

Bekal Utama Aktivis Dakwah

Oleh: DR. Amir Faishol Fath,

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنْ الْمُسْلِمِينَ . وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ . وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ

Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang shalih dan berkata:”Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar. (Fushshilat: 33-35).

Ayat di atas merupakan bekal utama bagi para aktivis dakwah di jalan Allah (dai), agar selalu semangat dan istiqamah, tidak pernah gentar dan getir, senantiasa menjalankan tugasnya dengan tenang, tidak emosional dan seterusnya. Ayat tersebut diletakkan setelah sebelumnya di awal surat Fushshilat Allah menggambarkan sikap orang-orang yang tidak mau menerima ajaran Allah. “Mereka mengatakan: hati kami tertutup, (maka kami tidak bisa menerima) apa yang kamu serukan kepadanya, pun telinga kami tersumbat, lebih dari itu di antara kami dan kamu ada dinding pemisah.” (Fushshilat: 5). Bisa dibayangkan bagaimana beratnya tugas dakwah jika yang dihadapi adalah orang-orang yang tidak mau menerima kebenaran, tidak mau diajak kepada kebaikan, lebih dari itu ia menyerang, memusuhi dan melemparkan ancaman. Setiap disampaikan kepada mereka ajaran Allah, mereka menolaknya dengan segala cara, entah dengan menutup telinga, menutup mata, atau dengan mencari-cari alasan dan lain sebagainya.

Dakwah di jalan Allah adalah kebutuhan pokok manusia. Tanpa dakwah manusia akan tersesat jalan, jauh dari tujuan yang diinginkan Allah swt. Para rasul dan nabi yang Allah pilih dalam setiap fase adalah dalam rangka menegakkan risalah dakwah ini. Di dalam Al-Qur’an, Allah swt tidak pernah bosan mengulang-ulang seruan untuk bertakwa dan menjauhi jalan-jalan setan. Tetapi manusia tetap saja terlena dengan panggilan hawa nafsu. Terpedaya dengan indahnya dunia sehingga lupa kepada akhirat. Dalam surat Al-Infithaar ayat 6 Allah berfirman: yaa ayyuhal insaan maa gharraka birabbikal kariim? (wahai manusia apa yang membuat kamu terpedaya, sehingga kamu lupa terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah?)

Lanjutkan Membaca..

Posted by: Alfah Saidah Saragih | 24 March 2010

5 Bekal Istri Aktivis Dakwah

Oleh: Dra. Anis Byarwati, MSi.

dakwatuna.com – Seorang aktivis dakwah membutuhkan istri yang ‘tidak biasa’. Kenapa? Karena mereka tidak hanya memerlukan istri yang pandai merawat tubuh, pandai memasak, pandai mengurus rumah, pandai mengelola keuangan dan trampil dalam hal-hal seputar urusan kerumah-tanggaan. Maaf, tanpa bermaksud mengecilkan, berbagai kepandaian dan ketrampilan itu adalah bekalan ‘standar’ yang memang harus dimiliki oleh seorang istri, tanpa memandang apakah suaminya seorang aktivis atau bukan. Atau dengan kalimat lain, seorang perempuan dikatakan siap untuk menikah dan menjadi seorang istri jika dia memiliki berbagai bekalan yang standar itu. Lalu bagaimana jika sudah jadi istri, tapi tidak punya bekalan itu? Ya, jangan hanya diam, belajar dong. Istilah populernya learning by doing.

Kembali kepada pokok bahasan kita. Menjadi istri aktivis berarti bersedia untuk mempelajari dan memiliki bekalan ‘di atas standar’. Seperti apa? Berikut ini adalah bekalan yang diperlukan oleh istri aktivis atau yang ingin menikah dengan aktivis dakwah:

Lanjutkan Membaca..

Posted by: Alfah Saidah Saragih | 23 February 2010

Kisah Inspiratif (terlebih lagi untuk akhwat)

quote from: Jalu Naradi – Mahasiswa ITB

Ternyata inspirasi bukan lah sebuah hal yang sulit dicari, bahkan seorang dosen pun dapat membuat cerita yang begitu menginspirasi kami…

Waktu itu, sekitar tahun 2000, datang seorang mahasiswi kepada seorang dosen, dia menghampirinya dengan wajah yang muram, dan kemudian berkata, “Pak, beasiswa Program Magister dan Doktor saya lolos”. Dan hanya itu saja kata2 yang keluar dari mulutnya, tanpa diikuti ekspresi apapun dari wajahnya… mengingat di luar sana berjuta – juta orang memimpikan pencapaian ini. Dan sang dosen tertegun, kemudia dia berkata, “Bagus donk dek, kamu bisa bikin bangga banyak orang, dan itu merupakan jalan hidup yang sangat baik. Lalu apa yang membuat kamu terlihat bimbang dek.”

Akhirnya mahasiswi itu bercerita kepada sang dosen. “Pak, sekolah hingga S2 dan S3 merupakan cita-cita saya sejak kecil, ini adalah mimpi saya, tidak terbayangkan rasa bahagia saya saat memperoleh surat penerimaan beasiswa ini…. Tapi pak, saya ini akhwat, saya wanita, dan saya bahagia dengan keadaan ini.. Saya tidak memiliki ambisi besar, saya hanya senang belajar dan menemukan hal baru, tidak lebih.. Saya akan dengan sangat ikhlas jika saya menikah dan suami saya menyuruh saya untuk menjadi ibu rumah tangga.. Lalu, dengan semua keadaan ini, apa saya masih harus sekolah?? saya takut itu semua menjadi mubazir, karena mungkin ada hal lain yang lebih baik untuk saya jalani.”
Lanjutkan Membaca..

Posted by: Alfah Saidah Saragih | 22 February 2010

Sifat Malu Kaum Wanita

dakwatuna.com – Malu adalah akhlak yang menghiasi perilaku manusia dengan cahaya dan keanggunan yang ada padanya. Inilah akhlak terpuji yang ada pada diri seorang lelaki dan fitrah yang mengkarakter pada diri setiap wanita. Sehingga, sangat tidak masuk akal jika ada wanita yang tidak ada rasa malu sedikitpun dalam dirinya. Rasa manis seorang wanita salah satunya adalah buah dari adanya sifat malu dalam dirinya.

Apa sih sifat malu itu? Imam Nawani dalam Riyadhush Shalihin menulis bahwa para ulama pernah berkata, “Hakikat dari malu adalah akhlak yang muncul dalam diri untuk meninggalkan keburukan, mencegah diri dari kelalaian dan penyimpangan terhadap hak orang lain.”

Abu Qasim Al-Junaid mendefinisikan dengan kalimat, “Sifat malu adalah melihat nikmat dan karunia sekaligus melihat kekurangan diri, yang akhirnya muncul dari keduanya suasana jiwa yang disebut dengan malu kepada Sang Pemberi Rezeki.”

Ada tiga jenis sifat malu, yaitu:
Lanjutkan Membaca..

Posted by: Alfah Saidah Saragih | 21 February 2010

Catatan 16 Februari 2010

Baru beberapa menit yang lalu, perasaan itu muncul kembali, bimbang yang tak karu-karuan, Aku mulai bimbang lagi dengan keputusanku untuk menjadi PNS. Ya, sejak keluarnya pengumuman Hasil Seleksi CPNS pada tanggal 7 Desember 2009 itu hidupku terasa mengambang, tidak pasti, tidak di bumi- tidak juga di langit, tidak di atas- tidak juga di bawah, terkadang senang- terkadang sedih, terkadang syukur- tapi lebih banyak kufur, masya Allah.

Nasi sudah menjadi bubur, siapa suruh ikutan seleksi CPNS- batinku. Aku ingat sekali kalau keinginanku untuk ikut seleksi itu benar-benar ingin coba-coba saja, karena lamaranku ke beberapa perusahaan belakangan belum mendapat respon, tidak lebih dari sekedar pelarian karena bosan menunggu panggilan atau terlalu bosan dengan keadaan pengangguran. Aku masih ingat, esok pagi akan ujian- malamnya bada maghrib aku masih sempat hadir di acara buka bareng dengan beberapa orang myqer Medan di warung ayam penyet di daerah dekat Asrama Haji Medan, aku lupa sampai di rumah tepat jam berapa, mungkin sekitar jam 9, karena rumahku cukup jauh dari lokasi kami buka bareng, sepulangnya- aku ingat belum mempersiapkan apa-apa untuk ujian CPNS besok, peralatan ujian belum aku siapkan sama sekali, apalagi persiapan materi ujian- huh boro-boro, keliatan ya kalau emang gak niat. Hampir jam 10 malam, aku baru sibuk nyari-nyari papan ujian punya kakak sepupu, kebetulan selama di Medan aku tinggal di rumahnya, tepatnya di kamarnya, Alhamdulillah papannya ketemu. Ku lirik lagi kartu tanda ujian, di sana ada note apa saja peralatan yang harus dibawa besok, pensil 2B, penghapus, papan ujian. Malam ini aku baru punya papan ujian saja, ya sudah lah tidur dulu, besok saja dilanjutkan persiapannya. Sebelum tidur, aku sempat membolak-balik buku soal-soal seleksi CPNS punya abang sepupuku, dan akhirnya tertidur dengan sukses tanpa ada yang didapat dari buku itu. Esok pagi baru aku samperin abang sepupuku, anak uwak- yang aku tinggal di rumahnya, maksud hati nyamperin buat pinjem peralatan perang, eh peralatan ujian, malah nihil yang aku dapet, peralatan ujiannya udah keburu dipinjem sama kakaknya, kakak sepupuku, yang hari ini ujian seleksi juga, tapi beda lokasi, beliau di Binjai. Bergegas aku keluar dari rumah menuju tempat tes yang jaraknya lumayan jauh (kalo jalan kaki :p), tak lupa sebelum naik angkot aku cari toko fotocopy dulu buat beli pensil 2B, penghapus, rautan dan pulpen. Di angkot, kembali aku buka-buka buku yang tadi malam menemaniku tertidur, antara setengah masuk dan tidak ke nalarku apa yang aku baca dari buku itu, pasrah saja- batinku, keluarkan apa yang ku bisa saja.

Lanjutkan Membaca..

Categories